Beranda | Artikel
Sifat-Sifat Penghuni Surga
16 jam lalu

Sifat-Sifat Penghuni Surga adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Fawaidul Fawaid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah TaslimM.A. pada Kamis, 27 Syawal 1447 H / 16 April 2026 M.

Kajian Islam Tentang Sifat-Sifat Penghuni Surga

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ غَيْرَ بَعِيدٍ . هَٰذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ . مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَٰنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُّنِيبٍ . ادْخُلُوهَا بِسَلَامٍ ۖ ذَٰلِكَ يَوْمُ الْخُلُودِ . لَهُم مَّا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ

“Dan surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tidak jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan atau tidak nampak (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat. Masukilah surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan. Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya.” (QS. Qaf [50]: 31-35)

Imam Ibnu Qayyim Rahimahullahu Ta’ala menjelaskan bahwa dalam ayat-ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan tentang didekatkannya surga bagi orang-orang bertakwa. Mereka adalah ahli surga yang memiliki empat sifat utama.

Sifat Pertama: Al-Awwab

Sifat pertama adalah menjadi seorang yang awwab. Secara bahasa, awwab berarti orang yang selalu kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Makna kembali di sini mencakup kembalinya seorang hamba dari perbuatan maksiat kepada ketaatan, serta dari kelalaian menuju zikir atau mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Seorang yang memiliki sifat ini akan segera memohon ampun dan bertobat ketika melakukan kesalahan. Ia senantiasa mencari jalan untuk tetap dekat dengan Rabb-Nya. Di dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih, sifat awwab merupakan sifat mulia yang dipuji oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahkan disematkan kepada para nabi-Nya ‘Alaihimus Shalatu was Salam.

Istilah ini juga digunakan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menyebut orang-orang yang melaksanakan shalat Dhuha di waktu tertentu. Beliau bersabda:

صَلَاةُ الْأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ

“Shalatnya orang-orang yang selalu kembali kepada Allah (shalat Dhuha) adalah pada saat anak-anak unta mulai merasakan panasnya sengatan matahari.” (HR. Muslim)

Penjelasan Syaikh Abdullah Al-Bassam Rahimahullahu Ta’ala dalam kitab Taudhihul Ahkam menerangkan bahwa sifat awwab berkaitan erat dengan ibadah shalat Dhuha. Waktu shalat Dhuha dimulai sejak matahari terbit dan meninggi sekitar 15 menit (waktu Isyraq). Namun, waktu yang paling utama adalah ketika hari mulai panas. 

Waktu tersebut biasanya berkisar antara pukul 10.00 hingga 11.00, saat manusia sedang sibuk dengan urusan dunia, pekerjaan, dan perniagaan. Seseorang disifati sebagai awwab (orang yang selalu kembali kepada Allah) karena ia menyempatkan diri untuk beribadah, berdzikir, atau membaca Al-Qur’an di tengah kelalaian manusia terhadap urusan akhirat.

Bagi mereka yang terikat perjanjian kerja di kantor atau perusahaan, pelaksanaan shalat Dhuha tidak boleh melanggar jam kerja, kecuali jika pekerjaan sedang kosong atau telah mendapatkan izin. Kewajiban mendahulukan pekerjaan yang menyangkut hak orang lain harus diprioritaskan. Namun bagi mereka yang memiliki kelonggaran waktu, memanfaatkan waktu tersebut untuk mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah keutamaan yang besar.

Makna Al-Awwab Menurut Ulama Salaf

Ubaid Ibnu Umair Rahimahullahu Ta’ala menjelaskan bahwa awwab adalah orang yang senantiasa mengingat dosa-dosanya kemudian memohon ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sifat ini menunjukkan bahwa hamba yang bertakwa tidak berarti luput dari dosa, melainkan mereka selalu mencari jalan menuju keridaan Allah ‘Azza wa Jalla meskipun sebelumnya sempat lalai.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai sifat penghuni surga:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran [3]: 135)

Sebagian ulama menafsirkan “perbuatan keji” sebagai dosa besar dan “menzalimi diri sendiri” sebagai dosa kecil. Sifat utama mereka adalah segera merujuk kepada kebenaran dan tidak terus-menerus dalam kemaksiatan.

Said Ibnu Musayyab Rahimahullahu Ta’ala juga mengatakan bahwa awwab adalah orang yang berbuat dosa, kemudian bertobat, lalu jika ia tergelincir lagi, ia kembali bertobat. Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat mencintai hamba yang rajin menyucikan diri melalui tobat.

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Sungguh, Allah menyukai orang yang tobat dan menyukai orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah [2]: 222)

Sifat Kedua: Al-Hafidz

Sifat penghuni surga yang kedua adalah hafidz, yaitu orang yang selalu menjaga diri. Abdullah Ibnu Abbas Radhiallahu Ta’ala ‘Anhuma menafsirkan bahwa hafidz adalah orang yang senantiasa menjaga amanah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala bebankan kepadanya dalam syariat, terutama dalam menunaikan kewajiban-kewajiban agama.

Sejalan dengan hal tersebut, Qatadah Rahimahullahu Ta’ala menjelaskan bahwa seorang hafidz adalah orang yang memelihara hak-hak Allah ‘Azza wa Jalla dengan beribadah hanya kepada-Nya semata, mentauhidkan-Nya, menjauhi kesyirikan, serta menjaga dan mensyukuri segala nikmat yang telah dititipkan kepadanya.

Mensyukuri nikmat dengan benar berarti menempatkan nikmat tersebut di jalan yang diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.  Sesuai dengan rukun syukur, seorang hamba harus memuji Allah ‘Azza wa Jalla dengan lisan atas limpahan nikmat-Nya, mengakui dalam hati bahwa nikmat tersebut murni dari Allah, kemudian menggunakan anggota badan untuk beramal di jalan yang dicintai-Nya.

Dua Kekuatan dalam Jiwa Manusia

Imam Ibnu Qayyim Rahimahullahu Ta’ala menyimpulkan sifat awwab dan hafidz berdasarkan dua potensi kekuatan yang ada dalam jiwa manusia. Pertama, kekuatan untuk mencari (thalab) tambahan kebaikan. Kedua, kekuatan untuk menahan (imsak) atau mempertahankan kebaikan yang sudah ada.

  1. Al-Awwab: Menggunakan kekuatan mencari untuk terus kembali (ruju) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, beralih dari kelalaian menuju ketaatan. Ia senantiasa menghadapkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan mengamalkan ketaatan.
  2. Al-Hafidz: Menggunakan kekuatan menjaga untuk menahan diri dari kemaksiatan dan pelanggaran terhadap larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia menjaga amanah syariat dan memelihara nikmat dengan cara tidak menggunakannya untuk hal-hal yang diharamkan.

Penghuni surga adalah mereka yang menegakkan perintah Allah, bersemangat dalam amal shalih (baik yang wajib maupun anjuran), sekaligus teguh menahan diri dari perkara haram maupun makruh yang dapat mengurangi keutamaan diri.

Sifat Ketiga: Takut kepada Allah yang Ghaib

Sifat ketiga penghuni surga disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ

“(Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat.” (QS. Qaf [50]: 33)

Sifat ini sejalan dengan gambaran hamba yang selamat pada hari kiamat, sebagaimana firman-Nya:

إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara [26]: 89)

Hati yang bersih (salim) adalah hati yang suci dari kesyirikan, tidak bergantung kepada makhluk, serta semata-mata bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Makna Rasa Takut dalam Keghaiban

Rasa takut kepada Allah yang Maha Pemurah dalam keadaan tidak terlihat mengandung beberapa unsur keimanan yang mendalam:

  • Pengakuan terhadap Keberadaan Allah: Menetapkan keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Sempurna.
  • Menetapkan Tauhid Rububiyah: Meyakini bahwa Allah ‘Azza wa Jalla yang menciptakan, mengatur, menghidupkan, mematikan, memberikan rezeki, serta melindungi hamba-hamba-Nya.
  • Sempurnanya Ilmu dan Pengawasan: Mengakui kemahakuasaan Allah dan pengawasan-Nya yang menyeluruh terhadap setiap keadaan hamba, bahkan hingga bagian yang paling rinci.
  • Iman kepada Perangkat Wahyu: Meyakini kebenaran kitab-kitab suci, rasul-rasul, serta perintah dan larangan yang dibawa.
  • Iman kepada Hari Akhir: Mengakui benarnya janji dan ancaman Allah, serta kepastian berjumpa dengan-Nya pada hari kiamat untuk mempertanggungjawabkan segala amal..

Rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang ghaib mencakup penetapan rukun iman lainnya, yaitu beriman kepada kitab-kitab Allah, para rasul, syariat-Nya, serta perintah dan larangan dalam agama. Hal ini juga meliputi keyakinan terhadap janji dan ancaman Allah, hari kiamat, serta perjumpaan dengan-Nya di akhirat kelak. Rasa takut kepada Allah yang ghaib tidak dianggap benar sebelum semua perkara tersebut terwujud dalam diri seorang hamba.

Sifat Keempat Penghuni Surga: Al-Qalb al-Munib

Sifat keempat penghuni surga adalah datang menghadap Allah dengan hati yang munib. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُّنِيبٍ

“Dan dia datang dengan hati yang bertaubat.” (QS. Qaf [50]: 33)

Sahabat Abdullah Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma menafsirkan ayat tersebut sebagai seseorang yang selalu merujuk dari perbuatan maksiat menuju ketaatan, mencintai Allah, serta senantiasa menghadapkan diri kepada-Nya. Hati yang munib adalah hati yang kembali kepada tauhid, mencintai Allah di atas segalanya, hanya takut dan berharap kepada-Nya, serta bertawakal sepenuhnya kepada-Nya.

Balasan bagi Penghuni Surga

Setelah menyebutkan empat sifat tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan balasan bagi mereka melalui firman-Nya:

ادْخُلُوهَا بِسَلَامٍ ۖ ذَٰلِكَ يَوْمُ الْخُلُودِ . لَهُم مَّا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ

“Masukilah surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan. Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya.” (QS. Qaf [50]: 34-35)

Para pemilik sifat tersebut berhak masuk surga dengan aman atas rahmat dan karunia Allah. Mereka kekal abadi di dalamnya dan mendapatkan segala yang diinginkan. “Tambahan” yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah nikmat tertinggi berupa kesempatan melihat wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Agung dan Maha Mulia, sebagaimana dijelaskan dalam hadits sahih riwayat Imam Muslim.

Ayat-ayat dalam Surah Qaf mengandung pelajaran agung mengenai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian “Sifat-Sifat Penghuni Surga” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56164-sifat-sifat-penghuni-surga/